![]() |
gambar diambil dari (@didoet_slowly) / X |
Bunyi gemeretak hp ku sampai didengar orang-orang yang sedang menikmati makan siangnya di plasa mahasiswa ini. Bukan, bukan karena ada pesan masuk, tapi karena kugenggam erat-erat sampai keypadnya seperti mau lepas.
Kuterapkan
saran buku-buku pengendalian ESQ untuk mengambil wudhu, “ah, sudah, ini juga
sedang hujan deras, tapi kenapa kepalaku masih terasa panas?” Sambil memandangi
genangan air yang mulai meninggi, aku mencoba mereka ulang kejadian beberapa
jam yang lalu, berusaha mencari celah untuk tidak meneruskan kemarahanku.
Andy adalah
temanku, setidaknya ia orang yang sering kutemui karena memang kamar kami
berseberangan. Hari ini, dia disanjung-sanjung banyak orang di jejaring sosial
tanpa kutahu apa penyebab pastinya. Setengah jam kemudian, kudapati seseorang
mengolok-olokku karena rahasiaku yang biasa kubagi kepadanya, jadi bahan
gunjingan orang-orang.
Meledaklah
aku dengan wajah pias, antara malu dan marah. Ya Allah, tega sekali dia.
***
Aku takut,
kejadian itu terulang lagi. Semester lalu, seorang yang membuatku sangat kesal,
kecelakaan karena motornya tak bisa berhenti di lampu merah perempatan bintaro
plasa. Tiga bulan lalu, seseorang yang lain, seusai membuatku sangat malu di
depan dosen, harus opname karena demam berdarah saat menjelang ujian akhir
semester. 3 minggu penuh, padahal tiga kali absen kuliah, bisa DO di kampusku,
apalagi ini sakitnya saat ujian. Beruntung kami menyelamatkan status
mahasiswanya dengan menguruskan ijin cuti setahun untuknya.
Kami? Ya,
kami.
Aku mulai
merasa bahwa ada yang aneh dengan diriku dan kejadian yang menimpa orang-orang
yang kubenci, atau sekedar terhadap orang yang membuatku marah walau hanya
sesaat. Sehingga, ketika penyesalanku datang, kupikir perlu untuk berbuat
sesuatu sebagai pengurang rasa bersalahku.
***
Kelulusan
SMA adalah masa paling dinanti, yang menjadi rangkaian peristiwa penting dalam
mengubah status “siswa” menjadi “mahasiswa”.
Biasanya momen itu dirayakan dengan penuh sukacita. 3 tahun lalu, aku
pun juga begitu. Kelas kami mengadakan perpisahan di sebuah vila di pegunungan.
Setiap orang sekamar berdua saja. Tentu aku memilih sekamar dengan sahabat
baikku, Raihan.
Raihan
berperawakan tinggi kurus, sama sepertiku. Kacamatanya oval sederhana, minus 1,
sama sepertiku. Rambutnya selalu pendek dan tak pernah disisir, sama juga
sepertiku. Ia lebih suka melamun, jadi akulah yang selalu mengambil inisiatif
memulai percakapan. Kalau dipikir-pikir selama 3 tahun terus sebangku
dengannya, semua sifatnya hampir mirip denganku kecuali ia yang jago Biologi
dan pelajaran hafalan lainnya sedang aku tidak.
Sejak
berangkat kemarin, kurasa, dia semakin aneh. Berbicara pendek-pendek dan kerap berlama-lama
memandangi langit. Yang membuatku merinding adalah, ia gemar bercerita soal makhluk
halus. Tahu saja ia, apa yang mampu membuatku berteriak histeris sambil
memohon-mohon untuk tidak meneruskan ceritanya. Malam hari sebelum pulang, ia
mengajakku cari jagung bakar di dekat vila.
“Apa kau
takut dengan hantu?”
“Tidak jika
hantunya kau”, aku menjawab sekenanya karena kesal ia berbicara tentang hal itu
sepanjang hari. Sempat kulihat ia tersenyum tanpa kutahu apa maksudnya.
“Oke,
besok-besok, kalau kau butuh aku, pejamkan matamu dan lihatlah, aku ada di sisi
kirimu.”
“Dasar
korban sinetron!”
***
Raihan
mengalami kecelakaan motor seminggu setelah pulang dari perpisahan SMA.
Di sekolah,
kami berkumpul lagi, bukan untuk ikut pelajaran lagi, tapi untuk berangkat
takziah bersama. Kulihat teman-temanku sebagian besar menangis tersedu-sedu dan
sisanya ,tidak, karena pingsan. Aku? Aku tak tahu harus berekspresi apa menghadapi
kenyataan bahwa sahabat terbaikku harus melanggar janji untuk sering reuni
setelah kuliah nanti.
Belakangan
ketika emosiku agak stabil, aku berpikir bahwa rupanya Alloh lebih mencintaimu.
Aku iri untuk sejenak, dan rasa ini selalu sukses membuatku menangis
meraung-raung seperti anak kecil.
***
Ia masih
selalu ada di sekitarku, tak dapat kulihat tapi dapat kurasakan saat aku marah
dan memandang ke sisi sebelah kiri. Lalu esoknya, kudapati orang yang tak
kusukai mendapat sebuah musibah, atau kesialan, yang amat menyakitkan. 3 tahun
terus seperti ini.
Kumohon,
jangan seperti ini. Kumohon, aku ingin kau tenang dan kumohon, biarkan aku
menyelesaikan masalahku sendiri.
Sekarang, tak
henti-hentinya aku mengucap istighfar sambil menghadapkan wajahku ke kanan. Hujan deras mulai mereda, dan sebentuk awan
putih menggantikan sedikit awan hitam tebal yang masih tersisa.
Di kejauhan
kulihat Andy dan sekelompok mahasiswa kelas praktikum keluar dari lab sambil
tertawa terbahak-bahak, dan di samping kiriku, seseorang mirip aku, berkacamata
oval minus 1 sedang mengawasiku, dan temanku itu.
No comments:
Post a Comment