Friday, 7 March 2025

Bayang-bayang

 

gambar diambil dari (@didoet_slowly) / X

Bunyi gemeretak hp ku sampai didengar orang-orang yang sedang menikmati makan siangnya di plasa mahasiswa ini. Bukan, bukan karena ada pesan masuk, tapi karena kugenggam erat-erat sampai keypadnya seperti mau lepas.

Kuterapkan saran buku-buku pengendalian ESQ untuk mengambil wudhu, “ah, sudah, ini juga sedang hujan deras, tapi kenapa kepalaku masih terasa panas?” Sambil memandangi genangan air yang mulai meninggi, aku mencoba mereka ulang kejadian beberapa jam yang lalu, berusaha mencari celah untuk tidak meneruskan kemarahanku.

Andy adalah temanku, setidaknya ia orang yang sering kutemui karena memang kamar kami berseberangan. Hari ini, dia disanjung-sanjung banyak orang di jejaring sosial tanpa kutahu apa penyebab pastinya. Setengah jam kemudian, kudapati seseorang mengolok-olokku karena rahasiaku yang biasa kubagi kepadanya, jadi bahan gunjingan orang-orang.

Meledaklah aku dengan wajah pias, antara malu dan marah. Ya Allah, tega sekali dia.

***

Aku takut, kejadian itu terulang lagi. Semester lalu, seorang yang membuatku sangat kesal, kecelakaan karena motornya tak bisa berhenti di lampu merah perempatan bintaro plasa. Tiga bulan lalu, seseorang yang lain, seusai membuatku sangat malu di depan dosen, harus opname karena demam berdarah saat menjelang ujian akhir semester. 3 minggu penuh, padahal tiga kali absen kuliah, bisa DO di kampusku, apalagi ini sakitnya saat ujian. Beruntung kami menyelamatkan status mahasiswanya dengan menguruskan ijin cuti setahun untuknya.

Kami? Ya, kami.

Aku mulai merasa bahwa ada yang aneh dengan diriku dan kejadian yang menimpa orang-orang yang kubenci, atau sekedar terhadap orang yang membuatku marah walau hanya sesaat. Sehingga, ketika penyesalanku datang, kupikir perlu untuk berbuat sesuatu sebagai pengurang rasa bersalahku.

***

Kelulusan SMA adalah masa paling dinanti, yang menjadi rangkaian peristiwa penting dalam mengubah status “siswa” menjadi “mahasiswa”.  Biasanya momen itu dirayakan dengan penuh sukacita. 3 tahun lalu, aku pun juga begitu. Kelas kami mengadakan perpisahan di sebuah vila di pegunungan. Setiap orang sekamar berdua saja. Tentu aku memilih sekamar dengan sahabat baikku, Raihan.

Raihan berperawakan tinggi kurus, sama sepertiku. Kacamatanya oval sederhana, minus 1, sama sepertiku. Rambutnya selalu pendek dan tak pernah disisir, sama juga sepertiku. Ia lebih suka melamun, jadi akulah yang selalu mengambil inisiatif memulai percakapan. Kalau dipikir-pikir selama 3 tahun terus sebangku dengannya, semua sifatnya hampir mirip denganku kecuali ia yang jago Biologi dan pelajaran hafalan lainnya sedang aku tidak.

Sejak berangkat kemarin, kurasa, dia semakin aneh. Berbicara pendek-pendek dan kerap berlama-lama memandangi langit. Yang membuatku merinding adalah, ia gemar bercerita soal makhluk halus. Tahu saja ia, apa yang mampu membuatku berteriak histeris sambil memohon-mohon untuk tidak meneruskan ceritanya. Malam hari sebelum pulang, ia mengajakku cari jagung bakar di dekat vila.

“Apa kau takut dengan hantu?”

“Tidak jika hantunya kau”, aku menjawab sekenanya karena kesal ia berbicara tentang hal itu sepanjang hari. Sempat kulihat ia tersenyum tanpa kutahu apa maksudnya.

“Oke, besok-besok, kalau kau butuh aku, pejamkan matamu dan lihatlah, aku ada di sisi kirimu.”

“Dasar korban sinetron!”

***

Raihan mengalami kecelakaan motor seminggu setelah pulang dari perpisahan SMA.

Di sekolah, kami berkumpul lagi, bukan untuk ikut pelajaran lagi, tapi untuk berangkat takziah bersama. Kulihat teman-temanku sebagian besar menangis tersedu-sedu dan sisanya ,tidak, karena pingsan. Aku? Aku tak tahu harus berekspresi apa menghadapi kenyataan bahwa sahabat terbaikku harus melanggar janji untuk sering reuni setelah kuliah nanti.

Belakangan ketika emosiku agak stabil, aku berpikir bahwa rupanya Alloh lebih mencintaimu. Aku iri untuk sejenak, dan rasa ini selalu sukses membuatku menangis meraung-raung seperti anak kecil.

***

Ia masih selalu ada di sekitarku, tak dapat kulihat tapi dapat kurasakan saat aku marah dan memandang ke sisi sebelah kiri. Lalu esoknya, kudapati orang yang tak kusukai mendapat sebuah musibah, atau kesialan, yang amat menyakitkan. 3 tahun terus seperti ini.

Kumohon, jangan seperti ini. Kumohon, aku ingin kau tenang dan kumohon, biarkan aku menyelesaikan masalahku sendiri.

Sekarang, tak henti-hentinya aku mengucap istighfar sambil menghadapkan wajahku ke kanan.  Hujan deras mulai mereda, dan sebentuk awan putih menggantikan sedikit awan hitam tebal yang masih tersisa.

Di kejauhan kulihat Andy dan sekelompok mahasiswa kelas praktikum keluar dari lab sambil tertawa terbahak-bahak, dan di samping kiriku, seseorang mirip aku, berkacamata oval minus 1 sedang mengawasiku, dan temanku itu. 

No comments:

Post a Comment